Connect with us

3

Tinggi Air Laut di Antartika Naik 3 Kali Lipat – VIVA

image_title

[ad_1]

VIVA – Level air laut secara global telah meningkat tiga kali lipat dari 25 tahun lalu akibat global warming atau pemanasan global. Sejak 1992, es di Antartika telah mencair dan menaikkan ketinggian air laut sekitar 8 milimeter dengan dua perlimanya naik selama lima tahun terakhir.

Hasil tersebut diketahui dari penelitian gabungan internasional yang terdiri dari 84 ahli dengan 24 survei satelit.

“Kami telah lama curiga pada perubahan dalam iklim bumi yang akan memengaruhi lapisan es kutub. Terima kasih kepada satelit yang diluncurkan ke luar angkasa, sekarang kami bisa melacak es mencair dan ketinggian air laut,” ujar ketua penelitian dari Universitas Leeds, Andrew Shepherd, dikutip dari laman Daily Mail, Kamis, 14 Juni 2018.


Sampai dengan tahun 2012, es mencair di Antartika berada pada tingkat stabil yaitu 76 miliar ton per tahun atau  menaikkan permukaan air laut sekitar 0,2 milimeter. Namun, sejak saat itu ada peningkatan yang terjadi hampir tiga kali lipatnya.

Dari 2012 sampai 2017, benua Antartika kehilangan 219 miliar ton es per tahun, atau kenaikan air laut menjadi 0,6 mm.


Wilayah paling parah adalah Antartika Barat. Tahun 1990-an hanya 53 miliar ton es yang hilang per tahun, tapi kini menjadi 159 miliar ton es yang hilang dari 2012 lalu.

Penyebabnya adalah bagian ini terkena air laut hangat dari Laut Amundsen dan Bellingshausen. Sedangkan es di Semenanjung Antartika runtuh karena permukaan yang telah mencair akibat suhu udara meningkat tajam.

Untuk wilayah lapisan es yang telah berkurang diperkirakan sekitar 34 ribu kilometer persegi sejak 1950 lalu.

“Meskipun lapisan es pecah tidak berkontribusi langsung pada kenaikan air laut karena lapisan es seperti es di laut telah mengambang sebelumnya. (Namun) Kita tahu ini berefek pada es yang ada di daratan. Tanpa lapisan es yang berfungsi sebagai penyangga alami gletser, es dapat mengalir lebih cepat dan keluar dari laut,” ujar Glasiologis Universitas California, Helen Fricker.


[ad_2]

Link Sumber

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

?>