Connect with us

3

Sinyal Misterius 12 Miliar Tahun Ditemukan, Tanda Akhir Zaman Gelap

Galaksi Bima Sakti.


VIVA – Alam semesta diperkirakan lahir lewat Big Bang sekitar 13,8 miliar tahun silam. Setelah Big Bang, ada periode di mana bintang-bintang belum lahir dan semua masih gelap.

Loading...

Dari zaman gelap itu ilmuwan menemukan sinyal misterius yang telah melakukan perjalanan ruang angkasa selama 12 miliar tahun.

Dikutip dari situs Express, Senin, 15 Juni 2020, Miguel Morales dari Universitas Washington, AS mengatakan, sifat alam semesta sekarang ini memiliki hubungan saat pembentukan bintang untuk pertama kalinya.

“Cara materi didistribusikan di alam semesta selama era sebelumnya kemungkinan membentuk bagaimana galaksi dan kelompok galaksi menyebar pada hari ini,” ujarnya.

Sebelum zaman kegelapan diketahui ruang angkasa menjadi sangat panas dan padat. Periode ini ditandai oleh adanya interaksi rutin antara foton dan elektron, membuat alam semesta memiliki tampilan yang buram.

Namun, kurang dari satu juta tahun setelah Big Bang, interaksi ini menjadi langka dan membuat alam semesta gelap. Zaman kegelapan berlangsung hingga ratusan juta tahun silam.

Pada masa itu alam semesta didominasi oleh atom hidrogen netral yang tidak memiliki muatan. Morales mengatakan tidak ada cahaya untuk dipelajari ilmuwan. Namun ada sinyal khusus yang bisa mereka cari, yang berasal dari hidrogen netral.

“Kami belum pernah mengukur sinyal ini, tetapi kami tahu itu ada di luar sana. Sulit dideteksi karena sinyal itu dipancarkan 13 miliar tahun yang lalu. Saat ini alam semesta kita sudah menjadi tempat yang sangat sibuk, diisi oleh aktivitas bintang, galaksi bahkan teknologi kita sendiri,” kata dia.

Sinyal misterius yang coba mereka tangkap adalah emisi radio elektromagnetik. Hidrogen netral memancarkan sinyal pada panjang gelombang 21cm, namun keadaan alam semesta membuat panjangnya berubah menjadi dua meter.

Morales percaya sinyal menyimpan informasi penting tentang zaman kegelapan dan bagaimana era itu berakhir. Ilmuwan melacaknya menggunakan Murchison Array, teleskop radio berfrekuensi rendah di Australia Barat.



Link Sumber

Continue Reading
Click to comment