Connect with us

3

Satelit Pengukur Cadangan Air Tawar Dunia – VIVA

image_title

[ad_1]

Seorang fisikawan Australia berhasil mengembangkan teknologi satelit yang mampu mengukur cadangan air tawar dunia dari luar angkasa.

Teknologi ini berada di jantung misi Pemulihan Gravitasi NASA dan Eksperimen Iklim (GRACE-FO), yang diluncurkan bulan lalu, dan menyusul misi GRACE pertama yang diluncurkan pada tahun 2002.

External Link: Misi luar angkasa untuk mengukur cadangan air tanah

Spacex Falcon

Sebuah pesawat SpaceX Falcon 9 lepas landas dari markas besar Angkatan Udara Vandenberg pada 22 Mei lalu membawa satelit GRACE-FO.

Supplied: NASA

 

Peluncuran itu membuat fisikawan Australia Daniel Shaddock dari Australian National University merasa stress karena hasil karyanya selama 15 tahun ditempatkan di sebuah roket.

“Agak sedikit aneh rasanya,” kata Profesor Shaddock.

“Bertahun-tahun dalam hidup anda mengerjakan sesuatu – sulit untuk percaya bahwa hal itu benar-benar terjadi dan akhirnya diluncurkan.

“Karenanya sangat menyenangkan ketika akhirnya hasil karya saya diluncurkan dan tidak ada yang meledak dan bagian yang paling menarik belum lagi terjadi.”

Profesor Shaddock mengembangkan retroreflector yang menggunakan laser untuk mengukur cadangan air tawar dunia dari luar angkasa dengan akurasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Alat ini mampu mengukur sesuatu yang sangat penting; kehadiran air – apakah dalam bentuk beku maupun cair – di seluruh dunia sekaligus dan itu adalah sesuatu yang hanya dapat Anda lakukan dari luar angkasa.

“Setiap cadangan air dalam bentuk besar akan menghasilkan gravitasi dan gravitasi itu bisa ditangkap oleh satelit GRACE.”

Cadangan air tanah terus berkurang

GRACE memiliki kemampuan luar biasa untuk mengintip di bawah permukaan Bumi dalam menimbang cadangan air tanah di mana sepertiga dari semua air tawar berada.

Pakar air dari Australian National University (ANU), Albert Van Dijk, mengatakan misi GRACE pertama melukiskan gambaran yang mengkhawatirkan atas hilangnya air tawar.

Profesor Van Dijk mengatakan di bagian dunia yang padat dan kering seperti India, sejumlah besar air sedang dipompa keluar dari tanah.

“Apa yang GRACE ceritakan kepada kami adalah bahwa banyak air tanah yang tidak diisi ulang,” kata Profesor Van Dijk.

“Kami sebenarnya tengah menambang air tanah dan jumlah yang sebenarnya cukup mencengangkan.

“Konsekuensi langsungnya adalah tabel air tanah semakin turun dan petani harus memperdalam sumur mereka.”

Air tawar menghilang di seluruh dunia

Di Australia, GRACE telah menunjukkan tingkat air tanah di Murray-Darling Basin masih belum pulih sejak kekeringan milenuim terjadi, yang berakhir pada tahun 2011.

Misi itu juga mengungkapkan bahwa air tawar menghilang dari Greenland dan Antartika Barat lebih cepat daripada tempat-tempat lain di Bumi ketika es mencair.

Gletser Petermann di Greenland

Gletser Petermann di Greenland merupakan diantara cadangan air segara dunia yang semakin menipis dengan cepat.

Supplied: Nick Cobbing, Greenpeace

“GRACE memberi kita angka yang solid tentang berapa banyak es yang menghilang, berapa banyak yang berakhir di lautan dan bagaimana itu mengubah siklus air kita dan sumber daya air kita.

“Kita bisa melihat banyak dampak dari perubahan iklim yang diprediksi lalu, kita bisa melihatnya sekarang.

“Ini sangat bermanfaat dalam hal melihat bagaimana perubahan iklim bergulir.

Cara kerja GRACE

GRACE mendeteksi perubahan kecil pada gravitasi yang disebabkan oleh massa air yang besar di Bumi, yang kemudian menyebabkan sepasang satelit untuk dipercepat atau melambat.

Alat laser buatan Profesor Shaddock mampu mengukur perubahan kecepatan ini.

“Dalam kasus Laser Ranging Interferometer, kita dapat mengambil perubahan dalam pemisahan pesawat ruang angkasa dengan sepuluh nanometer, itu sepuluh miliar meter – sekitar diameter virus.”

Twin GRACE

GRACE bekerja dengan mengukur jarak antara dua satelit seiring mereka bertukar kecepatan karena perubahan menit dalam gravitasi.

Supplied: NASA

Agar perangkat dapat berfungsi, dua sinar laser dari dua satelit terpisah – masing-masing bergerak dengan kecepatan ribuan kilometer per jam – perlu terhubung satu sama lain dari jarak lebih dari dua ratus kilometer.

“Setelah tautan laser diperoleh, saya pasti akan beristirahat sedikit lebih mudah – itu benar-benar tantangan terbesar yang dihadapi GRACE,” kata Profesor Shaddock.

“Jika itu tidak berhasil, kami tidak akan mendapatkan data apa pun, dan jika itu berhasil, saya jauh lebih yakin bahwa kami akan mendapatkan beberapa wawasan yang sangat berharga.”

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.

[ad_2]

Link Sumber

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

?>