Connect with us

3

Remaja 15 Tahun Terbitkan 2 Buku Tentang Sampah Elektronik – VIVA

image_title


Loading...

VIVA – Seorang remaja berusia 15 tahun bernama Rafa Jafar atau yang akrab disapa RJ menerbitkan buku perdananya yang berjudul E-Waste.

Awal tertarik dengan sampah elektronik ini bermula dari ponsel milik RJ yang rusak dan tak bisa dipergunakan lagi. Ia lalu bertanya-tanya ke mana harus membuang sampah elektronik tersebut.

“Dari rasa penasaran itulah saya mencoba menggali informasi. Setelah memahami aspek-aspeknya, saya memberanikan diri membuat buku,” kata dia, yang saat berusia 11 tahun berhasil meluncurkan buku pertamanya, di Jakarta, Rabu, 4 Juli 2018.


Sampah elektronik atau e-waste merupakan barang-barang elektronik yang sudah tidak dapat digunakan sehingga menjadi barang bekas.

Menurut Electronic Take Back Coalition 2016 menyebutkan, setidaknya ada 20 sampai 50 juta metrik ton e-waste yang tiap tahunnya dibuang di seluruh dunia.

Dikutip dari buku milik RJ, baterai disebut menggunakan logam berat seperti timbal, merkuri, mangan, nikel, lithium, dan kadmium. Baterai bekas masuk ke dalam kategori limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Setelah buku pertamanya terbit, RJ juga meluncurkan buku selanjutnya yang diberi judul ‘Sampah Baterai’. Kedua buku ini, diakui RJ, saling berkesinambungan.

Sampah elektronik terbanyak, menurut dia, datang dari golongan baterai yang memerlukan perhatian khusus. Karena sifatnya beracun, maka dari mulai membuat sampai membuang baterai tidak dapat dilakukan sembarangan.

“Seperti halnya semua jenis sampah elektronik, baterai yang dibuang di tempat sampah bisa berpotensi meracuni lingkungan sekitar dan berakibat fatal. Seharusnya, baterai ditampung secara khusus untuk diolah dengan tepat,” ungkapnya.

Remaja yang saat ini masih tercatat sebagai siswa SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah, itu juga turut memberikan solusi tentang sampah elektronik.

Ia berharap masyarakat mengadakan dropbox khusus baterai bekas. Dropbox ini bisa menjadi solusi yang tepat, karena wadahnya bisa dibuat menggunakan kayu dengan ukuran yang disesuaikan.

“Baiknya sih, dropbox diletakkan pada area umum agar masyarakat tidak lagi membuang baterai sembarang. Sampah elektronik yang terkumpul lalu diberikan kepada perusahaan pengolah limbah elektronik,” jelas RJ.

Nantinya, ia melanjutkan, perusahaan tersebut akan memilah sesuai materi asli untuk kemudian diolah untuk meminimalisir dampak terhadap lingkungan. (ase)




Link Sumber

Continue Reading
Click to comment