Connect with us

ANTARA

Penampakan pengemudi Go-Viet hingga pengalaman menumpang opang di Vietnam

[ad_1]

Hanoi (ANTARA News) – Para pengemudi sepeda motor memenuhi jalanan kota Hanoi pada Rabu (12/9) siang. Di antara mereka, Huong (44) adalah salah satunya.

Perempuan berambut seleher itu mengenakan helm dan baju berwarna merah yang bertuliskan Go-Viet. Sekilas penampilannya begitu mencolok dengan lipstik yang berwarna merah, kacamata hitam dan sepatu bertumit tinggi yang juga bernuansa warna merah.

Tas kecil berwarna putih menemaninya berkendara. Dia tampak nyaman dengan penampilannya itu.

“Dari Indonesia?,” sapa dia dalam bahasa Inggris.  

Hari itu adalah hari pertamanya bergabung dengan Go-Viet yang merupakan perpanjangan tangan dari PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Jek) bersama warga lokal Vietnam itu.

Huong (44), pengemudi Go-Viet saat mengantar penumpang asal Indonesia, di Hanoi, Rabu (12/9/2018). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Penampilan necis tak semata milik Huong. Nguyen Anh Tuan, pria ini mengenakan kacamata hitam dan perangkat headset wireless di telinga kirinya. Anh memadukan kaos merah bertuliskan Go-Viet dengan celana denim panjang.

Pria ini dulunya bekerja sebagai pegawai pemerintahan. Salah satu alasan Anh bergabung menjadi pengemudi ojek online adalah ada logo bendera Vietnam di bagian lengan kanan seragam. Dia mengaku bangga bisa mengenakan itu.

Berbeda dengan Huong dan Anh, Nguyen Ngoc Diep justru lebih sederhana dengan riasan yang minimalis. Ibu dua orang anak ini memilih menjadi pengemudi Go-Viet karena ingin mendapatkan penghasilan tambahan.  

Namun, keputusannya ini sempat mendapat tentangan dari kedua anaknya. Buah hati Ngoc menilai pengemudi ojek sebagai profesi laki-laki.

 

Nguyen Ngoc Diep (kanan) dan Nguyen Ahn Tuan, pengemudi Go-Viet saat ditemui di Hanoi, Rabu (12/9/2018). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Go-Viet sendiri sebenarnya sudah beroperasi di Ho Chi Minh City pada Agustus lalu. Sebulan kemudian, aplikasi berbasis daring yang salah satunya menawarkan antar manusia dan barang menggunakan sepeda motor itu hadir secara resmi di Hanoi.  

Berjalannya aplikasi di dua kota Vietnam menandai persaingan baru di antara perusahaan-perusahaan aplikasi berbasis daring yang sudah ada di Vietnam antara lain Grab, Aber, MVL dan FastGo serta ojek pangkalan setempat yang disebut “Xe Om”.

Co-Founder Go-Viet, Duc Nguyen tak mempermasalahkan persaingan ini, karena menurut dia selalu ada pesaing di berbagai sektor, termasuk layanan jasa antar jemput berbasis aplikasi daring.

“Di berbagai sektor kita punya berbagai kompetitor. Tapi ini bagus karena kami bisa memberikan pilihan baru untuk masyarakat Vietnam,” kata dia.

Dia juga merasa kehadiran Go-Viet tidak akan menimbulkan konflik di antara pengemudi ojek pangkalan atau Xe Ohm.

Di sisi lain, Ngoc mengatakan demi menghindari kemungkinan konflik, dia dan rekan-rekannya sebisa mungkin tak menjemput penumpang di dekat lokasi Xe Ohm berada.

Pengemudi Xe Ohm bisa Anda temui di berbagai jalan di Vietnam. Sebelum menggunakan jasa mereka, Anda perlu melakukan negosiasi biaya, yang biasanya tergantung pada jarak tempuh.

Hanya saja, tak semua orang bisa beruntung bernegosiasi dengan mereka, salah satunya karena kendala bahasa, seperti pengalaman Dessy Elvernia.

Jurnalis televisi asal Indonesia ini memilih menggunakan jasa Xe Ohm untuk menuju kawasan 44B Ly Thuong Kiet Street dari Hai Ba Trung Street.  

“Saya naik Xeom dari jalan Hai Ba Trung menuju Melia Hotel yang berjarak kurang lebih 500 meter dan dikenai harga 20 ribu Dong Vietnam oleh si pengemudi,” kata dia kepada Antara.

Harga ini lebih mahal saat  Antara menjajal Go-Viet menuju salah satu kawasan pusat kota Hanoi, 25 Thong dengan titik penjemputan di 44B Ly Thuong Kiet Street. Jarak tempuhnya sekitar 1,4 km dan dikenakan tarif 10.000 Dong Vietnam.

 

Merasa harga yang ditawarkan pengemudi Xe Ohm terlalu mahal, Dessy pun berusaha menawar. Karena keterbatasan bahasa, dia berusaha keras menggunakan bahasa tubuh.  

“Saya berusaha menawar tetapi dia keukeuh dengan harga segitu. Akhirnya saya sepakat naik, dia pun langsung jalan tanpa memberikan helm kepada saya,” kata Dessy.

“Dengan harga sebesar itu menurut saya terlalu mahal dengan jarak tempuh yang pendek, mungkin karena dia tahu saya turis sehingga harga dia patok tinggi,” imbuh perempuan berkacamata itu.

Baca juga: Sensasi menjajal Go-Viet

Baca juga: Go-Viet resmi beroperasi di dua kota Vietnam

 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018



[ad_2]

Link Sumber

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

?>