Connect with us

SINDONEWS

Pembukaan Lockdown Membuat Kualitas Udara di China Kembali Buruk

alexametrics

loading…

BEIJINGBanyak negara di dunia perlahan mulai mencoba berkegiatan setelah dihantam pandemik COVID-19. Karantina wilayah atau lockdown pun telah dibuka, termasuk di China. (Baca juga: Kasus WNI di Luar Negeri Positif COVID-19 Tembus 1.010 Orang)

Loading...

Sayangnya, pembukaan lockdown yang dibuntuti dengan aktivitas normal warga China membuat kualitas udara di sana kembali menurun. Pabrik-pabrik yang kembali beroperasi, maupun lalu lalang kendaraan bermotor, menjadi bagian dari faktor utama penyebab buruknya kualitas udara.

Berdasarkan data dari Centre for Research on Energy and Clean Air (Crea), konsentrasi partikel halus (PM2.5) dan nitrogen dioksida (NO2) di seluruh China saat ini berada pada kondisi yang sama dengan satu tahun sebelumnya.

Padahal, mengutip dari The Guardian, Minggu (7/6/2020), ketika lockdown diberlakukan sejak awal Maret lalu, tingkat NO2 di China turun 38% dan tingkat PM2.5 turun 34% dibandingkan sepanjang 2019.

Sementara di Kota Wuhan, wilayah yang dianggap menjadi sumber kemunculan pertama virus Corona, kondisi NO2 di sana hanya turun 14% dibandingkan 2019, setelah sempat turun hampir setengahnya.

Lebih parah lagi di Shanghai, kondisi udaranya saat ini sangat dipenuhi polusi. Berdasarkan studi terbaru, tingkat polusi di sana 9% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Perubahan kualitas udara yang terjadi di China diprediksi akan diikuti oleh negara-negara lainnya. Terutama bagi negara yang telah mencabut kebijakan lockdown. Dalam studi yang sama, indikasi tersebut sudah terlihat di negara-negara Eropa.

Kualitas udara di China saat ini berada pada kondisi yang sama dengan satu tahun sebelumnya. Ketika lockdown diberlakukan pada awal Maret lalu, tingkat NO2 di China sempat turun 38% dan tingkat PM2.5 turun 34%, dibandingkan sepanjang 2019.

(iqb)



Link Sumber

Continue Reading
Click to comment