Connect with us

Motor

Motor Listrik Gesits Diproduksi Massal Akhir 2018

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad mencoba motor loistrik buatan anak negri jelang pelepasan rombongan touring jarak jauh GESITS Tour de Jawa Bali di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) , Jakarta, Senin (7/11).


Motor listrik Gestis merupakan hasil riset Universitas Teknologi Sepuluh Nopember.

Loading...

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Sepeda motor listrik “Gesits” buatan anak bangsa ditargetkan sudah bisa diproduksi massal pada akhir 2018. Hal itu diungkapkan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir menargetkan usai menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Membangun Reputasi Internasional Perguruan Tinggi Merekat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Insya Allah, akhir 2018 sudah mass production yang dilakukan di bawah koordinasi PT Wikon dan Garansindo. Kalau risetnya, dari Universitas Teknologi Sepuluh Nopember (ITS),” katanya, Semarang, Kamis (29/3).

Menurut mantan Rektor terpilih Universitas Diponegoro Semarang (Undip) itu, riset yang dilakukan perguruan tinggi saat ini harus mengarah kepada kebutuhan industri.

“Kami mengkoordinasi seluruh kementerian dan lembaga di bawah koordinasi Menristek Dikti untuk membuat rencana induk riset nasional. Lebih pas kalau riset ke depan hilirisasi dan komersialisasi untuk dunia industri,” katanya.

Nasir mencontohkan rancangan motor listrik yang sudah sangat dibutuhkan seiring dengan konsumsi energi sepeda motor dan mobil sekitar 35 persen dari total konsumsi energi nasional.

“Semua orang pakai motor dan mobil menggunakan bahan bakar minyak. Kalau bisa dihemat dengan listrik bisa bergeser ke listrik, berarti kita mampu melakukan penghematan energi yang luar biasa,” katanya.

Gesits Technologies Indo adalah anak perusahaan Garansido Group yang khusus mengurusi segala hal terkait motor listrik Gesits.

Tak hanya motor listrik, Mensristek mengatakan mobil listrik nasional (molina) juga sudah disiapkan untuk mengurangi beban energi, termasuk penyiapan suplai listrik yang mencukupi.

“Problemnya, siapa yang menyediakan listrik? Kami sudah panggil PLN, panggil Pertamina. Bagaimana penyediaan energi listriknya supaya nanti charging (pengisian listrik, red.) bisa di mana-mana dilakukan dengan mudah,” katanya.

Diakui Nasir, proses recharging motor dan mobil listrik masih membutuhkan waktu lama, sekitar 3-4 jam/kendaraan, sementara di luar negeri proses pengisian daya listrik hanya 5-7 menit.

“Peneliti saya tantang, ke depan bagaimana. Recharge kalau di negara lain cukup 5-7 menit/kendaraan, sangat cepat sekali. Apa yang harus dilakukan, kolaborasi dengan perguruan tinggi luar negeri,” katanya.





Link Sumber