Connect with us

3

Kecerdasan Buatan Pahami Letusan Gunung Api, Akurasinya 92 Persen – VIVA

image_title



Loading...

VIVA – Kini kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bisa memahami letusan gunung berapi melalui partikel abu yang dihasilkan. Para peneliti telah menunjukkan bagaimana wawasan baru dapat diperoleh mengenai gunung berapi dan kemungkinan terjadinya erupsi.

Sejauh ini, uji coba dengan platform AI telah berhasil mengklasifikasikan bentuk basal atau batuan beku berwarna gelap dan halus yang merupakan bentukan lava gunung api, dengan tingkat keberhasilan 92 persen. Selain itu, sistem ini juga bisa menetapkan rasio probabilitas ke masing-masing partikel.

Dikutip dari laman Digital Journal, Minggu 1 Juli 2018, peneliti dari Institut Teknologi Tokyo menggunakan program kecerdasan buatan yang disebut Convolutional Neural Network. 


Menerapkan teknologi ini, peneliti menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan dapat dilatih untuk mengatalogkan dan menganalisis bentuk partikel abu vulkanik. 

AI dapat mendeteksi menggunakan jenis letusan gunung berapi melalui partikel vulkanik. Pendekatan sistematis ini dapat membantu para ilmuwan dalam memberikan informasi tentang letusan. Wawasan tersebut dapat membantu upaya mitigasi bahaya vulkanik.

Dalam pembelajaran mesin, Convolutional Neural Network merupakan tipe jaringan saraf artifisial yang punya kemampuan mendalam dalam analisis. 

Bentuk kecerdasan buatan ini paling sesuai untuk menganalisis citra visual. Proses ini menggunakan model komputasi multi lapisan yang dirancang untuk menyimulasikan kemampuan otak mengenali objek tertentu.

Pengembangan jaringan konvolusional itu terinspirasi oleh proses biologis, mengingat bahwa pola konektivitas antara neuron setara dengan pola korteks visual hewan.

penelitian ini telah terbit pada jurnal Scientific Reports, dengan artikel berjudul ‘Classification of volcanic ash particles using a convolutional neural network and probability’.

Para ahli vulkanologi sudah biasa melihat abu letusan untuk erupsi yang berbeda. Mereka menghasilkan partikel abu dengan bentuk yang juga berbeda. Namun, proses memeriksa ribuan sampel kecil secara objektif bisa memakan waktu yang lama. 

Penelitian ini juga membuat para ahli berpotensi rentan terhadap kesalahan. Di sinilah kecerdasan buatan memberikan keuntungan.

Untuk langkah selanjutnya, platform akan dilatih untuk mencari informasi yang berguna, juga kompleks tentang partikel-partikel kecil lainnya dengan nilai geologis yang luas.




Link Sumber

Continue Reading
Click to comment