Connect with us

3

Internet di Indonesia Buruk, Bom Waktu Mengintai – VIVA

image_title

[ad_1]

VIVA – Kondisi internet Indonesia, masih dalam kategori buruk berdasarkan pemantauan data dan analisis yang dilakukan oleh Lembaga Pusat Koordinasi dan Respons Insiden Siber Jepang, JPCERT/CC.

“Kondisi kesehatan internet di Indonesia, tergolong buruk dan menunjukkan risiko yang tinggi, terutama karena banyaknya open DNS Server dan Open SMNP Server yang beroperasi di Indonesia,” kata analis keamanan informasi JPCERT/CC, Katsuhiro Mori, saat menyampaikan paparannya di acara CodeBali, Legian, Kuta, Jumat 12 Oktober 2018.

Kelemahan di open DNS Server dan Open SMNP Server, menurutnya, dapat dimanfaatkan pihak yang ingin berbuat jahat untuk menyerang, bahkan mengamplifikasi serangan. Akibatnya, membawa terjadinya serangan Distributed Denial od Service (DDoS).


Dari hasil pemantauan itu, celah kotor internet Indonesia banyak ditemukan di alamat IP perusahaan-perusahaan layanan internet (ISP), perusahaan swasta, institusi pemerintahan pusat hingga daerah, serta perguruan tinggi negeri dan swasta.

Bom waktu

Ketua Lembaga Pusat Koordinasi dan Respons Insiden Siber Indonesia (IDSIRTII/CC), Rudi Lumanto menuturkan, sebenarnya nilai buruk di dua indikator tersebut, bukanlah satu-satunya gejala potensi terjadinya bencana siber di Indonesia.

Ada banyak indikator lain yang lebih mengerikan, di antaranya makin banyaknya jumlah perangkat IT yang sudah siap jaringan, termasuk di dalamnya perangkat Internet of Things (IoT) yang diprediksi ada sekitar 30 miliar unit pada 2020. 

“Selain itu, juga beredarnya aplikasi yang 95 persen memiliki kerentanan dan kemampuan manusia sendiri yang semakin sulit mengejar dan menutup banyaknya potensi ancaman. Upaya yang sama dan dilakukan selama ini tidak akan mampu. Karena itu, kita perlu segera mencari langkah terobosan dan revolusioner agar terhindar dari bencana siber,” kata Rudi.

Menurut Rudi, sangat berbahaya, jika kita terus membiarkan kondisi seperti ini, sementara merasa aman-aman saja.

Sebegitu kritisnya kondisi ini, mengutip ungkapan Direktur FBI, Rudi mengatakan, hanya ada dua tipe perusahaan di dunia siber, perusahaan yang pernah diretas dan perusahaan yang tidak tahu bahwa pernah diretas.

“Perlu segera dilakukan langkah-langkah terobosan, dari mulai perbaikan kerangka hukum, kelembagaan, kerja sama, dan peningkatan kapasitas manusia secara masif,” tutur jebolan Universitas Komunikasi Elektro Tokyo Jepang itu.

“Jika bom waktu bencana siber meledak, dapat dipastikan hal itu akan merugikan para pelaku industri digital, serta masyarakat penggunanya, sekaligus menghambat pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Rudi.

[ad_2]

Link Sumber

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

?>