Connect with us

3

Heboh Fenomena Tanah Bergerak di Palu, Begini Penjelasannya – VIVA

image_title

[ad_1]

VIVA – Masyarakat dibuat heboh dengan munculnya fenomena tanah bergerak atau likuifaksi dampak dari Gempa Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah. fenomena geologi itu terjadi di Sigi maupun Palu. 

Fenomena ini terjadi umumnya akibat getaran hebat yang mengguncang karakteristik batuan di dalam tanah. Getaran yang menyebabkan tanah bergerak ini umumnya akibat gempa bumi yang dahsyat. Namun sebab lain misalnya adanya eksplosif yang luar biasa yang membuat getaran hebat juga bisa menyebabkan fenomena likuifaksi. 

Dewan penasehat Ikatan Ahli Geologi Indonesia Rovicky Dwi Putrohari menjelaskan, likuifaksi terjadi pada lapisan di bawah tanah yang strukturnya batu pasir sehingga daya dukung tanah menjadi berkurang. Biasanya lapisan bawah tanah batu pasir di dalamnya sedimennya masih muda dan terdapat pori yang terisi air. Kemudian air yang tersimpan di dalamnya akan ikut terbawa keluar saat munculnya likuifaksi. 

Rovicky mengibaratkan, lemahnya lapisan tanah yang menyebabkan likuifaksi itu dengan toples yang di dalamnya kosong.   

“Likuifaksi ini seperti karena seolah digetar-getarkan, persis saat kita memasukkan emping di dalam toples. Itu kan gerak-gerakkan supaya turun, nah itu daya dukungnya berkurang dan akhirnya kolaps,” jelasnya kepada VIVA, Senin 1 Oktober 2018.  

Untuk tanah dengan profil yang berpotensi terjadinya likuifaksi ini, jelas Rovicky, bisa terjadi di dekat pantai maupun tengah atau pegunungan. Namun kecenderungannya area dekat pantai merupakan wilayah dengan berpotensi likuifaksi.

“Di pantai paling banyak sedimen belum terbatukan, atau di daerah endapan muda. Seperti di Jogja itu kan tanahnya termasuk endapan muda karena hasil dari gunung api. Bukan daerah pantai juga bisa, yang mana batu pasirnya porositas dan endapan airnya besar, sehingga keluar airnya,” tuturnya. 

Dia mengatakan, sebenarnya fenomena tanah bergerak akibat gempa hanyalah fenomena yang biasa dalam geologi. Sebelum heboh tanah bergerak akibat Gempa Palu dan Donggala, fenomena serupa pernah terjadi buntut Gempa Jogja beberapa tahun lalu.

“Kalau Anda ingat, di Jogya itu tanah runtuh pada gempa 2006, itu juga likuifaksi. Jadi ini gejala yang biasa, dulu pernah terjadi. Cuma karena heboh sekarang saja,” ungkapnya. 

Untuk fenomena likuifaksi di Palu, Rovicky menduga kemungkinan ada lapisan besar serupa bidang yang bawah tanahnya isinya batu pasir. Kemudian karena terlikuifaksi jadinya tanah permukaan tergelincir oleh bidang terlikuifaksi tersebut. 

[ad_2]

Link Sumber

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

?>