Connect with us

Mobil

Hasil Tambang Indonesia Dilirik untuk Baterai Mobil Listrik

Pengisian energi listrik pada mobil tenaga listrik (ilustrasi)


Kemenperin menggandeng UNS untuk riset nikel dan kobalt sebagai bahan baterai mobil.

Loading...

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indonesia melirik hasil tambang lokal yakni nikel-kobalt sebagai bahan baku baterai untuk kendaraan listrik. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, jika baterai generasi baru tersebut berhasil dikembangkan, maka Indonesia sudah memiliki modal utama untuk memproduksi kendaraan listrik yang kompetitif.

Competitiveness dari kendaraan listrik itu tergantung dari baterainya. Kalau itu dikembangkan, maka kita akan punya kendaraan listrik yang kompetitif,” ujarnya, usai peluncuran Riset Komprehensif Kendaraan Listrik di kantor Kementerian Perindustrian, Rabu (4/7).

Dalam peluncuran tersebut, Kemenperin telah menugaskan Universitas Sebelas Maret untuk melakukan riset pemanfaatan nikel-kobalt sebagai baterai kendaraan listrik.

Nikel merupakan salah satu produk tambang yang dihasilkan Indonesia. Kabupaten Morowali di Sulawesi Tengah bahkan dikenal sebagai penghasil nikel terbaik di Asia Tenggara.

Ketua Umum gabungan industri kendaraan bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi menyebut, baterai merupakan salah satu komponen utama pada kendaraan listrik. Tiap negara mengembangkan baterai untuk kendaraan listriknya sendiri. Cina, misalnya, mengembangkan baterai dari lithium ion. Sementara, Jepang mengembangkan fuel cell.

Yohannes mendorong langkah pemerintah yang memanfaatkan hasil tambang lokal sebagai bahan baku baterai untuk kendaraan listrik. “Kita jangan tergantung pada yang sudah dimiliki oleh dunia. Kalau kita riset lithium ion, tidak ada gunanya karena itu sudah diproduksi massal,” ucap Yohannes.

Ia melanjutkan, baterai pada kendaraan listrik memiliki porsi 30-40 persen. Karenanya, jika baterai bisa diproduksi di dalam negeri, maka industri dapat memaksimalkan penggunaan komponen lokal.





Link Sumber