Connect with us

SINDONEWS

Hampir Digilas, Amerikat Serikat Usulkan Pembatasan…

alexametrics

[ad_1]

loading…

NEW YORK – Pemerintah Amerika Serikat akan membatasi China berbisnis teknologi di AS. Departemen Keuangan AS sedang menyusun pembatasan-pembatasan yang akan menghambat perusahaan dengan setidaknya 25 persen kepemilikan China dalam membeli perusahaan AS.

Seorang pejabat AS yang menjadi sumber  The Wall Street Journal, menekankan bahwa ambang batas kepemilikan China dapat berubah sebelum pembatasan diumumkan pada 29 Juni.

Langkah tersebut menandai meningkatnya konflik perdagangan Presiden Donald Trump dengan China.

Tarif barang-barang China senilai USD34 miliar, yang pertama dari total kemungkinan USD450 miliar, akan berlaku pada tanggal 6 Juli atas keluhan-keluhan AS bahwa Tiongkok telah menyalahgunakan teknologi AS melalui peraturan-peraturan usaha patungan bersama, mengakuisisi perusahaan-perusahaan Amerika yang mengembangkan teknologi sensitif, dan kebijakan-kebijakan lainnya.

Mantan Wakil Menteri Pertahanan AS itu mengatakan Washington harus siap untuk terkejut dalam setiap konflik dengan Beijing. Menurutnya, China tak hanya telah melakukan banyak hal untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya, tetapi juga banyak berinvestasi dalam teknologi militer generasi mendatang.

“Ketika saya menyaksikan kompetisi teknis militer yang sedang berlangsung di Pasifik Barat, di antara dua rival kekuatan besar kami-terutama China-saya menemukan diri saya berkata; Ini adalah bagaimana rasanya diimbangi,” kata Work.

“Dan saya harus memberi tahu Anda, rasanya tidak enak,” katanya lagi, dalam konferensi Strategic competition: Maintaining the edge yang digelar The Center for a New American Security (CNAS).

Work, seorang pensiunan Kolonel Angkatan Laut yang menjabat sebagai Wakil Menteri Pertahanan dari 2014 hingga 2017 di bawah pemerintahan Obama dan Trump, menambahkan bahwa China ingin menjadi penggerak pertama dalam kecerdasan buatan. Menurutnya, Beijing akan menggabungkan kecerdasan buatan, Internet, big data, robotika dan machine learning.

“Itu bakal menjadi bagaimana mereka akan maju dari Amerika Serikat,” ujar Work, Selasa (26/6/2018). Dia mengatakan, AS harus menginvestasikan anggaran militer senilai USD700 miliar untuk kecerdasan buatan dan sejenisnya guna mempersempit celah dengan China.

Menurut mantan pejabat Pentagon tersebut, China telah siap untuk mengalahkan AS di medan perang masa depan dengan membangun kemampuan serangan pertama serta mengganggu jaringan komando dan kontrol Amerika. “Orang-orang China mencari dan menembak dalam-dalam,” kata Work.

Kemajuan China, lanjut Work, terbukti dalam peperangan elektronik, siber, sistem anti-ruang angkasa, hipersonik, dan senjata api, termasuk jenis sistem senjata generasi masa depan yang juga diuji di AS dan Rusia.

Berbicara pada acara yang sama, Jenderal Angkatan Udara Paul Selva, yang menjabat Wakil Ketua Kepala Staf Gabungan, menambahkan bahwa orang-orang China belum pernah mengirim rudal balistik atau rudal balistik jarak jauh. “Tetapi mereka sekarang dapat menyebarkan kemampuan itu dalam skala besar,” katanya.

Lebih lanjut Work mengatakan, ada alasan untuk pesimistis tentang kompetisi teknologi AS dan China. “Jangan salah, setelah meninjau apa yang telah dapat dilakukan militer China dalam dua dekade terakhir penilaian objektif apa pun, dalam pandangan saya, harus menyimpulkan bahwa pasukan gabungan AS nyaris menjadi korban, yang ditargetkan dengan sangat baik, strategi offset yang kuat dan didorong oleh teknologi,” imbuh dia.



[ad_2]

Link Sumber

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

?>