Connect with us

3

Gangguan Tidur Bisa Bikin Pikun, Begini Penjelasannya – VIVA

image_title



Loading...

VIVA – Gangguan tidur bisa mengakibatkan perubahan struktur otak pada manusia. Berdasarkan sebuah penelitian, gangguan ini juga berakibat seseorang menderita demensia atau pikun di tahap pertama.

Perubahan struktur otak ini berhubungan dengan Obstructive Sleep Apnoea atau OSA, yaitu keadaan di mana dinding tenggorokan menjadi sempit saat tidur. Hal ini mengakibatkan seseorang akan berhenti bernapas.

Dilansir dari situs Eureka Alert, Kamis, 5 Juli 2018, keadaan OSA akan menurunkan pasokan oksigen yang masuk ke tubuh dan dikaitkan dengan penyusutan temporal lobes pada otak serta penurunan memori.


Penelitian yang dipimpin oleh Sharon Naismith dari Universitas Sydney, Australia membuktikan hasil penelitian tersebut terhadap orangtua yang terdiagnosa OSA. Mereka juga memberikan pengobatan untuk membantu pencegahan demensia pada manusia.

“Antara 30 sampai 50 persen risiko dementia akibat faktor modifikasi seperti depresi, tekanan darah tinggi, obesitas dan merokok. Dalam beberapa tahun terakhir kami telah menemukan gangguan tidur juga berasal dari faktor demensia,” ungkap Naismith.

Ia melanjutkan, penelitian ini menggunakan 83 orang partisipan yang berusia antara 51 hingga 88 tahun. Mereka telah mengunjungi dokter dengan keluhan menurunnya kemampuan mengingat atau depresi tapi tidak terdiagnosa OSA.

Selain itu, setiap partisipan melakukan MRI Scan untuk mengukur dimensi tiap bagian pada otak. Mereka juga dimonitor pola tidurnya pada sleep clinic dengan mencatat aktivitas otak, tingkatan oksigen dalam darah, detak jantung, pernapasan, dan gerakan.

Alhasil, partisipan dengan kadar oksigen rendah saat tidur cenderung memiliki ketebalan yang berkurang pada temporal lobes kiri dan kanan otak. Bagian tersebut merupakan tempat penting bagi memori dan pengaruh demensia.

Naismith dan para peneliti lainnya juga menemukan partisipan dengan OSA mengalami peningkatan ketebalan di daerah lain pada otak. Menurutnya, kemungkinan terjadinya penebalan itu sebagai reaksi otak terhadap pasokan oksigen yang rendah.

Ia menambahkan, usia partisipan yang lebih tua juga memiliki risiko terjangkit demensia. Naismith kemudian melanjutkannya dengan melakukan tes OSA terhadap orangtua.

“Intervensi dini adalah kuncinya. Karena, tidak ada pengobatan untuk demensia. Di sisi lain, kami memiliki pengobatan efektif bagi penderita OSA. Penelitian ini menunjukkan bahwa diagnosa dan pengobatan OSA akan menjadi peluang pencengahan penurunan kognitif sebelum terlambat.” (mus)




Link Sumber

Continue Reading
Click to comment