Connect with us

3

Analisis Mengapa Tik Tok Meroket – VIVA

image_title


Loading...

VIVA – Aplikasi musik video Tik Tok sedang menjadi perhatian di dunia dan di Indonesia. Di tingkatan global, aplikasi asal China ini sedang menjadi viral sedangkan di tanah air, Tik Tok kena blokir karena mengandung konten negatif. 

Pengamat teknologi dan analis industri mengungkapkan kenapa Tik Tok begitu cepat menohok dan mendunia. Salah satu alasannya, adalah aplikasi ini dipakai oleh para figur publik yang akhirnya menyedot perhatian pengguna internet di dunia. 

Dikutip dari Globaltimes, Rabu 4 Juli 2018, faktor momentum juga dianggap berkontribusi makin memopulerkan Tik Tok. 


Profesor Communication University of China (CUC), Wang Sixin mengatakan, momentum Piala Dunia 2018 turut memopulerkan Tik Tok. 

“Tik Tok telah sukses menggabungkan musik dengan suasana domestik dan luar negeri. Dan Piala Dunia sebagai karnaval global mendorong orang dari seluruh dunia untuk merekam dan berbagi momen terindah pada platform ini,” ujar Sixin. 

Pandangan Sixin bukan tanpa bukti. Pada 11 Juni lalu, bintang timnas Jerman, Mesut Ozil telah menarik perhatian warganet di seluruh dunia. Sebab, Ozil membuat akun Tik Tok dan dengan cepat menarik lebih dari 1,3 juta follower-nya kurun 10 hari saja. Sedangkan video Tik Tok yang diunggah Ozil telah ditonton 2,93 juta kali. 

Selain faktor kontribusi dari pemain sepakbola, banyak bule dan warga asing yang berbagi momen mereka secara langsung melalui Tik Tok. 

Sixin mengatakan, salah satu faktor lain yang membuat Tik Tok meroket adalah aplikasi ini tumbuh tanpa kendala. Dia mengatakan, Tik Tok tak punya kendala kultural sehingga membuat platform ini bisa secara tak langsung menyebarkan kultur China ke seluruh dunia. 

Tik Tok juga membuat penggunanya menjadi subjek. Maksudnya, pengguna bisa mengunggah dan menonton video buatan mereka di platform tersebut. 

Analis industri Ma Shicong berpandangan, suksesnya Tik Tok menjadi viral dan mendunia menguntungkan bagi citra perusahaan teknologi China. Apalagi Tik Tok menurutnya kini sedang mendapatkan pangsa pasar besar di pasar global.

Pengaruh Tik Tok juga berkat acata televisi. Acara TV populer seperti Sukkiiri!!!, Music Station dan Downtown DX telah mengenalkan Tik Tok menjadi tren baru dalam dunia budaya pop. 

Tak heran dengan berbagai faktor tersebut, Tik Tok dengan cepat makin tumbuh. Sejak masuk ke pasar luar China pada Mei tahun lalu, Tik Tok dengan cepat menaiki daftar aplikasi populer di Google Play dan App Store. Dalam setahun debutnya di luar pasar China, aplikasi ini mencapai lebih dari 10 juta unduhan. 

Tik Tok juga menuai sukses saat masuk ke Jepang pada musim panas 2017. Di Negeri Matahari Terbit itu, Tik Tok memuncaki daftar aplikasi terunduh di App Store selama tiga kali. Makanya tak heran, pada Februari 2017, Tik Tok menyabet penghargaan Spp Spe Japan Forbes edisi 2017. 

Tik Tok saat ini telah diunduh lebih dari 150 juta kali di lebih dari 150 negara. Pengguna Tik Tok luar China tercatat terdapat 100 juta pengguna aktif bulanan per bulan.

Tak mengekor

Perusahaan yang membesut Tik Tok, Bytedance, mengatakan kunci sukses Tik Tok adalah berupaya menjadi platform yang mandiri tak mengekor ke aplikasi lain.

“Perusahaan-perusahaan China telah memiliki teknologi inti tak lagi meniru model bisnis perusahaan asing, tapi beralih ke inovasi independen,” jekas Kepala Eksekutif Bytedance, Zhang Yiming. 

Menurut bos induk Tik Tok itu, perusahaan China sangat bagus. Tak ingin kalah dengan perusahaan asing, perusahaan China yakin untuk menjadi perusahaan kelas global. 

Namun, analis mengingatkan Tik Tok untuk tidak tepuk dada. Analis mengingatkan perusahaan teknologi informasi China dengan platform internet harus hati-hati memelajari lingkungan pasar luar negeri yang kondisinya berbeda. 

Tantangan itu sudah terjadi. Misalnya, laman The Independent melaporkan, sebuah masjid di Malaysia melarang turis mengakses masuk. Musababnya muncul video dua wanita menari dengan pakaian seksi sekali menjadi viral. Usut punya usut dua kaum hawa membuat video Tik Tok. 

Shicong mengatakan, saat Tik Tok tumbuh di luar negeri, perlu memberi sentuhan lokal di berbagai negara dan wilayah di mana aplikasi tersebut hadir. 




Link Sumber

Continue Reading
Click to comment