Connect with us

3

Ada Sisi Positifnya – VIVA

image_title

[ad_1]

VIVA – Menguatnya kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah hingga menyentuh Rp15 ribu ditanggapi oleh Asosiasi E-Commerce Indonesia atau idEA ada sisi positif dan negatif.

Menurut Ketua idEA, Ignatius Untung, sisi positifnya dilihat dari sisi funding atau pendanaan e-commerce. “Karena banyak investasi di e-commerce itu masih banyak dari luar,” kata dia di Jakarta, Kamis, 6 September 2018.

Ignatius melanjutkan, untuk investor, yang awalnya mengeluarkan dana X maka dengan adanya kenaikan dolar AS maka yang didapatnya menjadi 1,25 X yang disebabkan oleh selisih kurs.

Sementara sisi negatifnya, ia menuturkan barang impor yang dijual akan menjadi lebih mahal. Ignatius mengungkapkan jika kenaikan ini juga terjadi pada toko offline.

Jangan overprotektif

Kendati demikian, meningkatnya nilai tukar dolar ini menjadi kesempatan bagi produk lokal untuk dibeli oleh masyarakat. Ia pun memberi catatan bahwa ujung-ujungnya adalah kualitas produk yang akan dibeli konsumen.

Soal produk lokal dan impor, Ignatius menyoroti sikap overprotektif terhadap barang lokal. Sebab, semuanya akan kembali pada kualitas barang tersebut, terlepas dari mana asalnya.

Ia menuturkan jika kualitas tidak bagus, mau diproteksi seperti apapun juga calon pembeli enggan untuk membeli. “Atau, orang ke luar negeri beli barang di sana lalu bawa ke sini. Itu lebih bahaya lagi itu. Barangnya ada di sini tapi pajaknya lari ke sana,” jelas dia.

Ignatius mencontohkan telepon genggam buatan Indonesia, di mana produk ini penjualannya banyak tapi hanya menyasar pasar tertentu.

“Tapi kenapa misalnya Samsung, Apple, dan Xiaomi masih besar. Karena orang lihat ya lokal memang lebih murah tapi kok kualitasnya belum bagus,” ujar Ignatius.

E-commerce bisa membunuh

Ia menambahkan kalau bukan hanya Indonesia yang mengalami kenaikan nilai tukar, tetapi India mengalami hal yang sama.

Bukan cuma itu saja. Ignatius berpendapat bila idEA belum mengeluarkan sikap terkait wacana pembatasan barang impor di penjualan online oleh pemerintah.

Ia mengklaim belum punya data jumlah barang impor perusahaan yang berada di bawah organisasinya. “Salah satu pemain yang sudah klaim itu Bukalapak. Yang lain masih menghitung,” paparnya.

Igantius mengajak pemerintah untuk mengobrol bersama mencari definisi, efek, dan data yang harus dihitung soal pembatasan tersebut.

Soal pembatasan impor, Ignatius menyatakan bahwa yang sering disoroti adalah pedagang asing yang berjualan melalui marketplace lokal. Namun, menurutnya kasus seperti itu tak banyak di Indonesia.

“Setahu saya jumlahnya enggak sampai lima yang besar-besar. E-commerce memang bisa membunuh, karena sistem ekonominya sangat terbuka. Jangan sampai pemain lokal tumbang karena kualitas produk pemain asing lebih baik, terus yang disalahkan e-commerce,” tegas Ignatius.

[ad_2]

Link Sumber

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

?>