Connect with us

breaking news - Techno Bisnis

Eks Karyawan Facebook: Korban Kebocoran Data Lebih dari 87 Juta : Okezone Techno





JAKARTA – Mantan pegawai Cambridge Analytica Brittany Kaiser mengungkapkan sebuah fakta baru terhadap kasus yang menimpa para pengguna Facebook. Dalam sebuah kesaksian di Parlemen Inggris, dia menduga jumlah korban dari skandal ini bisa jadi melebihi 87 juta korban.

Dalam kesaksiannya, Kaiser menuturkan jika Cambridge Analytica serta perusahaan mitra mereka memanfaatkan data kuisioner yang melibatkan lebih banyak pengguna Facebook. Dia yakin, penyalahgunaan yang terjadi akan jauh lebih besar dari apa yang telah dilaporkan sebelumnya.

Dia menambahkan, Cambirdge Analytica tidak menggunakan ‘This Is Your Digital Life’ saja, melainkan menggunakan berbagai kuis lain untuk mendapatkan data yang lebih personal. Salah satunya adalah kuis ‘sex compass’ yang mencari tahu kecenderungan pribadi pengguna, atau kuis musik yang pernah dia kepalai, untuk mengetahui selera musik pengguna.

Baca Juga : Facebook Diperiksa Polisi, Wakapolri: Hasilnya Satu Sampai Dua Minggu ke Depan

“Saya selalu menunjukkan contoh kepada klien, bahwa jika mereka menggunakan Facebook dan membuat kuis kepribadian yang viral, tidak hanya yang dirancang oleh Cambridge Analytica, SCL Group, atau afiliasi kami saja. Aplikasi ini dirancang khusus untuk memanen data dari individu yang menggunakan Facebook sebagai alatnya,” kata Kaiser seperti dikutip dari The Verge, Kamis (19/4/2018).

Tak ketinggalan, dalam sidang kali ini Kaiser juga menyerahkan bukti tambahan berupa nota, dalam sidang pendengaran mengenai berita palsu. Tentunya, hal ini akan membuka pandangan baru bagi Parlemen Inggris.

Baca Juga : Facebook: Twitter, Pinterest, LinkedIn,dan Google juga Kumpulkan Data

Hal ini dikarenakan dalam nota tersebut, dia yakin jika Alexandr Kogan dan Cambridge Analytica melebihi dari jumlah korban yang telah diajukan oleh Facebook.

Sekedar informasi, Kaiser sendiri sudah bekerja beberapa tahun di Cambridge Analytica. Dia bertugas untuk mencari klien dan mengepalai sebuah aplikasi tes kepribadian tertentu di Facebook.

Namun, pada awal Januari lalu, dia keluar dari perusahaan tersebut. Dia keluar tepat beberapa minggu sebelum pada akhirnya Cambridge Analytica ketahuan menggunakan data pribadi pengguna Facebook untuk memenangkan Presiden Donald Trump dalam pemilihan Presiden Amerika 2016 lalu. (chn)

(kem)



Link Sumber

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply